Aparat gabungan kembali menggagalkan peredaran rokok ilegal di Lampung Selatan.
Sepanjang November 2025, dua pengiriman besar terungkap dengan total 11,7 juta batang rokok tanpa pita cukai, salah satu tangkapan terbesar tahun ini.
Nilai barang ditaksir mencapai Rp17,5 miliar, dengan potensi kerugian negara sekitar Rp11,4 miliar.
Plt Kepala Kanwil DJBC Sumatera Bagian Barat, Rachmad Solik, menjelaskan operasi pertama digelar 4 November setelah tim menerima informasi intelijen mengenai pengiriman rokok ilegal dari Jawa ke Sumatera melalui Pelabuhan Bakauheni.
Pemeriksaan di ruas Tol Bakauheni–Terbanggi Besar menemukan 415 koli berisi 6,5 juta batang rokok tanpa pita cukai.
“Nilai barang diperkirakan Rp9,7 miliar, dengan potensi kerugian negara sekitar Rp6,3 miliar,” ujar Rachmad, Selasa (9/12/2025).
Pengembangan kasus berlanjut dan kembali menghasilkan temuan pada 28 November. Petugas mendapati dua pengiriman rokok ilegal di dua titik berbeda—ruas Tol Bakauheni–Terbanggi Besar dan Kecamatan Jati Agung.
Dari operasi lanjutan itu, aparat menyita 335 koli berisi 5,2 juta batang rokok dengan nilai taksiran Rp7,8 miliar dan potensi kerugian negara Rp5,1 miliar.
Dua tersangka ditahan, masing-masing B (sopir) dan U (penadah). Barang bukti dan para tersangka kini berada di Kantor Bea Cukai Lampung untuk penyidikan lebih lanjut.
Mereka dijerat Pasal 54 dan/atau Pasal 56 UU Cukai dengan ancaman pidana penjara 1–5 tahun dan/atau denda hingga sepuluh kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.
Dalam konferensi pers, Bea Cukai menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, termasuk TNI, Polri, kejaksaan, pemerintah daerah, serta jajaran internal.
“Upaya bersama ini mencerminkan komitmen kolektif untuk menjaga iklim usaha yang sehat dan memberantas kejahatan ekonomi yang merugikan negara. Sinergi ini akan terus kami perkuat sejalan dengan Asta Cita ke-7,” kata Rachmad.
Kepala Bea Cukai Lampung, Arif, menegaskan pentingnya pengawasan ketat karena Lampung merupakan jalur perlintasan.
“Barang ilegal dari Jawa maupun Sumatera pasti melewati Lampung. Karena itu, pengawasan pintu masuk terus kami perkuat melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan,” ujarnya. (*)
